{"id":5773,"date":"2024-08-06T03:33:01","date_gmt":"2024-08-06T03:33:01","guid":{"rendered":"https:\/\/gambutkita.org\/?p=5773"},"modified":"2025-05-27T02:31:41","modified_gmt":"2025-05-27T02:31:41","slug":"a-farmer-for-the-future","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/a-farmer-for-the-future\/","title":{"rendered":"Seorang Petani Berbakti untuk Masa Depan"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"5773\" class=\"elementor elementor-5773\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-5e238a9 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"5e238a9\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-1fcb103\" data-id=\"1fcb103\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-c81c3c8 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"c81c3c8\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Suku Dayak mempraktikkan ladang berpindah dengan membakar sejak dahulu kala. Meskipun ada undang-undang di Kalimantan yang melarang pembakaran hutan dan lahan, para petani masih membuka lahan mereka dengan cara membakar. Ini adalah cara tercepat dan paling hemat biaya untuk membersihkan lahan dan menyuburkannya. Namun, ada konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan dalam jangka panjang jika dilakukan di lahan gambut. Akhmad Tamanuruddin, atau yang akrab disapa Pak 'Taman', menyadari konsekuensi itu secara keras.\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-2ebff9b elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"2ebff9b\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-2091a88\" data-id=\"2091a88\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-84a100c elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"84a100c\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h2>Sebuah Pelajaran Berat<\/h2><p>Ia terkenal karena berhasil bertani di lahan gambut tanpa membakar. Di masa kecilnya, ia belajar bertani dari orang tuanya di Ngawi, Jawa Timur. Pada tahun 1980, Pak Taman bertransmigrasi ke Kalimantan Tengah bersama istri dan anaknya yang masih berusia 11 bulan. Tempat pertama yang ia tinggali sering mengalami banjir, sehingga tidak memungkinkan untuk bertani di sana. Lalu, dia pindah ke tempat lain di mana dia mencoba menanam bibit yang dibawanya dari Jawa dan tidak ada yang tumbuh karena keasaman tanah yang tinggi. Ia bekerja di Muara Teweh selama empat tahun sebelum akhirnya menetap di tempat tinggalnya sampai sekarang di Kalampangan, Palangka Raya. Lahan gambut memang tidak cocok untuk pertanian intensif dan Pak Taman menyadari bahwa lahannya tidak subur. Ia mengamati bahwa tanaman akan tumbuh lebih baik di area yang baru terbakar. Oleh karena itu, ia mencoba membakar lahannya untuk sementara waktu, yang hanya memberikan manfaat jangka pendek. Pembakaran menghilangkan lapisan tanah atas, bagian tanah yang paling kaya akan unsur hara, dan secara bertahap menyebabkan tanah menjadi surut. Tanah yang hilang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk pulih kembali. Itulah yang terjadi pada tanahnya dan itu adalah pelajaran terberatnya. Ia bersumpah untuk tidak pernah membakar lagi.<\/p><div>\u00a0<\/div>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b3b71a6 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"b3b71a6\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h2>Waktu dan Kegigihan<\/h2><p>Pak Taman memiliki tiga sifat yang mendorongnya untuk mencari cara yang benar untuk bertani di lahan gambut. Pertama, ia keras kepala dan gigih. Ia mencoba segala cara dengan sumber daya yang ia miliki untuk menyuburkan lahannya. Semua ia lakukan sendiri secara manual. Pertama, ia mencoba menggunakan dolomit dan ada sedikit peningkatan pada hasil panennya, tetapi itu tidak cukup baik baginya. Kemudian, satu per satu, ia menambahkan pupuk kandang sapi dan kemudian tanah mineral sampai ia merasa puas. Ia mengamati kualitas tanaman singkongnya. Jika tanamannya tumbuh dengan baik, berarti tanahnya cukup subur, karena menurutnya singkong membutuhkan banyak unsur hara. Sifat kedua adalah ia berpikir jauh ke masa depan dan bagaimana tindakannya di masa sekarang akan mempengaruhi keturunannya; itulah inti keberlanjutan. Hasil dari pembakaran bisa langsung tercapai, tetapi kerugian yang timbul di lingkungan dalam jangka waktu panjang jauh lebih besar daripada manfaat langsungnya. Itulah sebabnya ia sangat menyesal ketika membakar lahannya pada awalnya. Yang terakhir, Pak Taman mengatur waktunya sangat baik. Ia bekerja di sebuah sekolah dasar, sebagai guru agama, sambil bekerja di kebunnya. Setiap pagi, selama tiga puluh menit, ia mengerjakan kebunnya sebelum berangkat ke sekolah. Dia tidak pernah datang terlambat ke sekolah. Ia pensiun sebagai guru pada tahun 2014.\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-936f2ee elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"936f2ee\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-caption\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"534\" src=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-1024x683.jpg\" class=\"attachment-large size-large wp-image-5780\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-300x200.jpg 300w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-768x512.jpg 768w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-160-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<figcaption class=\"widget-image-caption wp-caption-text\">Dua baris tanaman singkong ditanam di antara pohon jelutung.<\/figcaption>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/figure>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a5fc16b elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a5fc16b\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"translation-block\">Kami berjalan di kebunnya di pagi menjelang siang. Tanahnya lembut, gembur, gelap dan berlumut. Di lahan seluas dua hektar, Pak Taman menanam singkong, cabai, rambutan, dan pisang. Melewati deretan pohon jelutung setinggi 10 meter, rasanya seperti berada di hutan. Ia mulai menanam pohon jelutung pada tahun 2004 pada Hari Natal (ia ingat betul) dan menempatkan tanaman sayurnya di antara pohon-pohon tersebut. Ini merupakan penerapan model agroforestri di mana pohon-pohon tersebut menjadi produk utama. Pohon-pohonnya menyediakan keteduhan dan menahan curah hujan untuk tanaman yang lebih rendah. Ia mengatakan bahwa pohon-pohon dan tanaman sayurnya saling mendukung pertumbuhan satu sama lain. Hasil panennya yang dibeli oleh pengepul sering kelebihan dan ia berikan kepada pengunjung. Ada tiga sumur bor yang ia gunakan untuk menyirami tanaman dan memadamkan api yang menjalar ke lahannya, yang pernah terjadi di masa lalu.<\/p><p><br \/><br \/><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-de4f042 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"de4f042\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-caption\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"534\" src=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-1024x683.jpg\" class=\"attachment-large size-large wp-image-5779\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-300x200.jpg 300w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-768x512.jpg 768w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-135-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<figcaption class=\"widget-image-caption wp-caption-text\">Pak Taman menerapkan model agroforestri diekbunnya, dengan menanam pohon jelutung (Dyera sp).<\/figcaption>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/figure>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-6efd377 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"6efd377\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h2>Sebuah Berkah<\/h2><p>Pak Taman menjadi terkenal secara lokal pada tahun 2009 karena metodenya berkebun tanpa membakar, namun baru pada tahun 2016 ia mulai dikenal secara internasional. Suatu hari, seorang pria datang tanpa pemberitahuan ke kebunnya. Dia langsung bertanya kepada Pak Taman, \"Mana yang lebih mahal, membakar atau tidak membakar?\". Pak Taman tidak mengenal orang itu dan memintanya untuk memperkenalkan diri. Namanya Suprapto dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pertemuan ini terjadi setelah kebakaran hutan pada tahun 2015, ketika pemerintah mulai serius menangani masalah itu. Ada kabar bahwa Pak Taman berhasil bertani tanpa membakar dengan hasil yang bagus, sehingga pemerintah mengirim Pak Suprapto untuk menyelidikinya. Jawaban Pak Taman sederhana saja: \"Cara saya memang lebih mahal di jangka pendek, tapi tidak seberapa dibanding kerugian yang timbul di lingkungan dalam jangka panjang jika terus membakar lahan.\" Pak Suprapto perlahan memeluknya, kagum dengan kesederhanaan dan kebenaran jawaban tersebut. Sejak saat itu, para petani dari seluruh Kalimantan Tengah datang berkunjung ke kebun Pak Taman dan belajar darinya. Beliau juga dikunjungi oleh orang asing dari Amerika Latin, Jerman, Spanyol, negara-negara ASEAN, Jepang dan Australia. Beliau juga diundang untuk menjadi pembicara di beberapa seminar internasional, salah satunya di Maroko. Ia sangat bersyukur karena banyak orang yang ingin belajar darinya, yang baginya berarti ilmu yang dia miliki adalah sebuah berkah.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-6bad300 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"6bad300\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-49f222a\" data-id=\"49f222a\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5e71d09 elementor-widget elementor-widget-image\" data-id=\"5e71d09\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"image.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<figure class=\"wp-caption\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"534\" src=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-1024x683.jpg\" class=\"attachment-large size-large wp-image-5781\" alt=\"\" srcset=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-300x200.jpg 300w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-768x512.jpg 768w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-18x12.jpg 18w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<figcaption class=\"widget-image-caption wp-caption-text\">Salah satu manfaat menjadi petani adalah terjaganya kesehatan. Di usia 71 tahun, Pak Taman dalam kondisi lebih sehat dibandingkan dengan rekan-rekan seumurnya. \n<\/figcaption>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/figure>\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<section class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-1aebc62 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"1aebc62\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-6378396\" data-id=\"6378396\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\n\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-00e64b1 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"00e64b1\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Pak Taman belajar sendiri bagaimana bertani di lahan gambut tanpa membakar. Tidak ada kursus khusus yang bisa dipelajari sembarang orang. Ini membutuhkan dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Ia mengajarkan metode ini kepada tetangga-tetangganya yang bertani, namun mereka tidak menerapkannya dan tetap membakar untuk membuka lahan. Pak Taman beberapa kali mengatakan kepada kami bahwa tanah di lahan tetangganya lebih rendah dari miliknya, bahkan hingga setengah meter. Salah satu tetangganya pernah gagal panen jagung karena banjir yang diakibatkan oleh tanah yang lebih rendah. Itu adalah hasil dari pembakaran selama bertahun-tahun. Kami menanyakan pendapat Pak Taman tentang orang Dayak yang secara tradisional membakar lahan mereka dalam ladang berpindah. \"Mereka terus membakar karena tradisi, dan alasan untuk tradisi tersebut telah hilang seiring berjalannya waktu dan mungkin sudah ketinggalan zaman. Ada aspek baik dan buruk dalam sebuah tradisi. Kita harus mempertahankan yang baik dan mengubah yang buruk. Ladang berpindah sebenarnya membutuhkan lebih banyak waktu dan energi daripada pertanian permanen. Ada juga emisi gas rumah kaca dari kebakaran. Setiap kali ada kabut asap, sekolah-sekolah ditutup dan, sebagai pensiunan guru, saya tidak setuju dengan apa pun yang menghambat pendidikan anak, karena mereka adalah pemimpin masa depan kita\".\u00a0<\/p><p>\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t<\/section>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pak Taman belajar sendiri bagaimana bertani di lahan gambut tanpa membakar. Tidak ada kursus khusus yang bisa dipelajari sembarang orang. Ini membutuhkan dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Ia mengajarkan metode ini kepada tetangga-tetangganya yang bertani, namun mereka tidak menerapkannya dan tetap membakar untuk membuka lahan. Pak Taman beberapa kali mengatakan kepada kami bahwa tanah di lahan tetangganya lebih rendah dari miliknya, bahkan hingga setengah meter. <\/p>","protected":false},"author":11,"featured_media":5781,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-5773","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>A Farmer for the Future - Gambut Kita<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/gambutkita.org\/id\/a-farmer-for-the-future\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"A Farmer for the Future - Gambut Kita\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pak Taman taught himself how to farm on peatland without burning. There isn\u2019t a specific course on it that just anyone can learn. It took dedication and genuine care about the environment and future generations. He taught his farming neighbors about his method, but they did not apply it and continued to use fire to clear their land. Pak Taman mentioned several times to us that the ground on the farmland of his neighbors was lower than his, even up to half a meter.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/gambutkita.org\/id\/a-farmer-for-the-future\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Gambut Kita\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-08-06T03:33:01+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-27T02:31:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"yts\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"yts\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"yts\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e05d469bf8175abeac65a2888c83221c\"},\"headline\":\"A Farmer for the Future\",\"datePublished\":\"2024-08-06T03:33:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-27T02:31:41+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/\"},\"wordCount\":1151,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/\",\"name\":\"A Farmer for the Future - Gambut Kita\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2024-08-06T03:33:01+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-27T02:31:41+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/08\\\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707,\"caption\":\"One of the benefits of being a farmer is that it keeps you healthy. At 71, Pak Taman is in good health compared to his peers.\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/a-farmer-for-the-future\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"A Farmer for the Future\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/\",\"name\":\"Gambut Kita\",\"description\":\"Peatlands Indonesia\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#organization\",\"name\":\"Gambut Kita\",\"url\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Black-Background-Design.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/10\\\/Black-Background-Design.png\",\"width\":1000,\"height\":243,\"caption\":\"Gambut Kita\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/gambutkita\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/e05d469bf8175abeac65a2888c83221c\",\"name\":\"yts\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c8bfda76ff97537376ec1d922097bd980f1299977f257c0d83ea2a53625d1e72?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c8bfda76ff97537376ec1d922097bd980f1299977f257c0d83ea2a53625d1e72?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/c8bfda76ff97537376ec1d922097bd980f1299977f257c0d83ea2a53625d1e72?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"yts\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/gambutkita.org\\\/id\\\/author\\\/yts\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"A Farmer for the Future - Gambut Kita","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/a-farmer-for-the-future\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"A Farmer for the Future - Gambut Kita","og_description":"Pak Taman taught himself how to farm on peatland without burning. There isn\u2019t a specific course on it that just anyone can learn. It took dedication and genuine care about the environment and future generations. He taught his farming neighbors about his method, but they did not apply it and continued to use fire to clear their land. Pak Taman mentioned several times to us that the ground on the farmland of his neighbors was lower than his, even up to half a meter.","og_url":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/a-farmer-for-the-future\/","og_site_name":"Gambut Kita","article_published_time":"2024-08-06T03:33:01+00:00","article_modified_time":"2025-05-27T02:31:41+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"yts","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"yts","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/"},"author":{"name":"yts","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#\/schema\/person\/e05d469bf8175abeac65a2888c83221c"},"headline":"A Farmer for the Future","datePublished":"2024-08-06T03:33:01+00:00","dateModified":"2025-05-27T02:31:41+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/"},"wordCount":1151,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg","articleSection":["Uncategorized"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/","url":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/","name":"A Farmer for the Future - Gambut Kita","isPartOf":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg","datePublished":"2024-08-06T03:33:01+00:00","dateModified":"2025-05-27T02:31:41+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#primaryimage","url":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2024\/08\/240430-Visit-interviews-pak-Taman-Kalampangan-Tt-122-scaled.jpg","width":2560,"height":1707,"caption":"One of the benefits of being a farmer is that it keeps you healthy. At 71, Pak Taman is in good health compared to his peers."},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/a-farmer-for-the-future\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/gambutkita.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"A Farmer for the Future"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#website","url":"https:\/\/gambutkita.org\/","name":"Gambut Kita","description":"Peatlands Indonesia","publisher":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/gambutkita.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#organization","name":"Gambut Kita","url":"https:\/\/gambutkita.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Black-Background-Design.png","contentUrl":"https:\/\/gambutkita.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Black-Background-Design.png","width":1000,"height":243,"caption":"Gambut Kita"},"image":{"@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/gambutkita\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/gambutkita.org\/#\/schema\/person\/e05d469bf8175abeac65a2888c83221c","name":"yts","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8bfda76ff97537376ec1d922097bd980f1299977f257c0d83ea2a53625d1e72?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8bfda76ff97537376ec1d922097bd980f1299977f257c0d83ea2a53625d1e72?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/c8bfda76ff97537376ec1d922097bd980f1299977f257c0d83ea2a53625d1e72?s=96&d=mm&r=g","caption":"yts"},"url":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/author\/yts\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5773","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/11"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5773"}],"version-history":[{"count":14,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5773\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5930,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5773\/revisions\/5930"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5773"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5773"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gambutkita.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5773"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}