Peluncuran Peta Jalan Restorasi Lahan Gambut di Indonesia

Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG) berdiri megah di tepi kawasan Universitas Palangka Raya. Gedung tujuh lantai yang dibangun pada tahun 2020 ini berfungsi sebagai pusat unggulan untuk penelitian dan pengembangan ekosistem gambut dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu alam, sosial, hingga teknik. Di lantai empat, tersedia pusat informasi yang menyajikan berbagai pengetahuan tentang gambut di Kalimantan Tengah. Saya berkesempatan mendapatkan tur pribadi dari Direktur PPIIG, Associate Professor Hendrik Segah, yang dengan antusias menjelaskan koleksi mini-museum. Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah model mini berbagai jenis sekat kanal. Sebelumnya saya hanya mengenal satu jenis sekat kanal, sehingga melihat ragam bentuk dan fungsinya langsung memberikan pemahaman baru. Hari itu, Dr. Hendrik Segah juga memandu para peserta workshop “Launching a Roadmap for Peatland Restoration” yang berlangsung di aula luas di lantai teratas gedung PPIIG. Tempat tersebut menjadi lokasi yang sangat tepat untuk penyelenggaraan lokakarya selama tiga hari, pada 21–23 Mei, yang membahas arah restorasi gambut di Indonesia.

Proyek penelitian 8 tahun

Acara ini juga menjadi penutup bagi proyek Gambut Kita, yang sejak awal bertujuan untuk meningkatkan pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat serta memperkuat upaya restorasi gambut di Indonesia. Selama delapan tahun pelaksanaannya, tim peneliti Gambut Kita telah menghasilkan 30 publikasi ilmiah tentang gambut di jurnal internasional. Hasil-hasil penelitian tersebut kemudian dirangkum dalam sebuah roadmap. Penyusunan roadmap, yang merupakan Core Project 4 (CP4) dari Gambut Kita, dimulai pada tahun 2021. Tim penyusunnya terdiri dari peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), dan Australian National University (ANU), serta para ahli dari Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Selama dua hari menjelang peluncuran, mereka merumuskan sebuah policy brief yang menyoroti tiga aspek penting restorasi gambut, yaitu pengetahuan, nilai, dan dukungan kelembagaan. Dokumen ini disusun berdasarkan temuan utama mereka, antara lain: penelitian tentang gambut tropis di Indonesia masih terbatas dan terfragmentasi, terdapat kelemahan dalam kerangka regulasi restorasi gambut, serta lembaga pemerintah belum mampu bekerja sama secara efektif dalam memulihkan ekosistem gambut. Policy brief tersebut menegaskan perubahan sistemik apa saja yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan lahan lgambut untuk pulih dan terjaga di masa depan.

Lokakarya multi-pihak mengembagkan peta jalan restorasi

Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Tambuhak Sinta (YTS) dan berhasil mempertemukan 81 pemangku kepentingan dari berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, masyarakat, media akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil. Keragaman peserta ini merupakan hasil dari jejaring dan hubungan yang selama bertahun-tahun dibangun YTS melalui keterlibatan bersama masyarakat dan pemangku kepentingan dari berbagai level dalam kerangka proyek Gambut Kita. Inklusivitas seperti ini sangat penting untuk merumuskan solusi restorasi gambut, karena isu ini menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Hari pertama lokakarya dibuka dengan pemaparan temuan utama roadmap oleh Dr. James Langston dan Tri Wira Yuwati, anggota tim CP4. Setelah itu, Wandy Tuturoong selaku Direktur Eksekutif YTS memfasilitasi forum terbuka, di mana para peserta berbagi pandangan mereka mengenai restorasi gambut. Beberapa pembicara kunci dalam forum ini antara lain Jany Tri Raharjo, Kepala Kelompok Kerja Restorasi Gambut BRGM untuk Kalimantan dan Papua; Herbert Marpaung dari Kantor Staf Presiden; serta Dr. Jatna Supriatna, pakar zoologi sekaligus Ketua Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia. Fasilitator memastikan bahwa perwakilan dari berbagai kategori pemangku kepentingan mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan, sehingga tercipta gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh mengenai alasan kegagalan upaya restorasi gambut di masa lalu. Setelah jeda makan siang, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing diminta memberikan masukan dan rekomendasi terhadap tiga area utama policy brief: pengetahuan, nilai dan dukungan kelembagaan. Proses ini difasilitasi oleh para peneliti dari BRIN. Setiap kelompok kemudian bergiliran membahas ketiga aspek tersebut hingga semua topik dibahas secara menyeluruh.

Salah satu kelompok di mana peserta memberi masukan tentang dukungan kelembagaan

Kunjungan lapangan

Hari kedua diisi dengan kunjungan lapangan ke dua lokasi penting restorasi gambut: Center for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP) di Taman Nasional Sebangau dan Pusat Informasi Gambut Tumbang Nusa (PISIG: Camp Peat KHDTK). Kunjungan ini memberi kesempatan kepada peserta untuk merasakan langsung kondisi gambut di lapangan, sehingga mereka memperoleh pemahaman yang lebih nyata mengenai topik yang sedang dibahas. Dari Hotel Bahalap, rombongan berangkat dengan bus, lalu menyeberangi sungai menggunakan perahu untuk mencapai camp CIMTROP. Kitso Kusin, Kepala Kamp Penelitian, menyambut kedatangan peserta dan memberikan presentasi mengenai sejarah serta fungsi camp tersebut. Beberapa peserta kemudian menelusuri hutan rawa gambut melalui jalur transek, di mana mereka menemukan sarang orangutan yang baru saja digunakan, tidak jauh dari camp. Perhentian berikutnya adalah Camp Peat KHDTK di Tumbang Nusa. Di sana, peserta mendapat tur keliling pusat informasi dan belajar mengenai berbagai upaya penghijauan kembali lahan gambut di Tumbang Nusa, sebuah kawasan yang berulang kali dilanda kebakaran sejak tahun 1995, termasuk kebakaran besar pada 2015. 

Dengan kunjungan ke kamp CIMTROP, para peserta dapat mengalami hutan rawa gambut secara langsung.
Di PISIG Camp Peat, peserta menyumbangkan ide-ide mereka untuk Teori Perubahan restorasi lahan gambut yang dibuat oleh tim CP4.

Rencana aksi

Pada hari terakhir lokakarya, para peserta kembali berkumpul di gedung PPIIG. Dr. James Langston menegaskan kembali poin-poin utama dari roadmap serta perubahan sistemik yang diperlukan untuk memulihkan ekosistem gambut. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti Gambut Kita yang telah bekerja bersama selama delapan tahun terakhir. Sebagai kegiatan penutup, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk melakukan sesi brainstorming, masing-masing diminta menyusun daftar lima orang kunci yang sebaiknya menerima policy brief dan roadmap tersebut. Lokakarya kemudian ditutup dengan sambutan dari Dr. Hendrik Segah dan Wandy Tuturoong. Sebagai tindak lanjut, tim Gambut Kita bertemu dengan Edy Priyono, Deputi II Kantor Staf Presiden (KSP), untuk menyampaikan poin-poin utama dari roadmap. Pertemuan ini dimungkinkan berkat hubungan strategis yang dibangun YTS dengan KSP. Ke depan, direncanakan pembentukan panel bersama antara BRIN, KSP, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk memulai dialog mengenai gambut. Pemulihan gambut di Indonesia merupakan upaya besar yang tidak bisa hanya mengandalkan anggaran negara. Seperti yang ditegaskan dalam policy brief, diperlukan skema pembiayaan yang menarik dan inovatif untuk mendorong investasi hijau, seperti nature-based solutions, green bonds, blended finance, serta instrumen keuangan lainnya.

Facebook
Email
Twitter
LinkedIn
WhatsApp