Ditempuh dengan kelotok dari Dermaga Kereng Bangkirai, Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) yang dikelola CIMTROP-UPR membuka kesempatan bagi pengunjung untuk belajar dan melihat langsung ekosistem gambut di Sebangau. Dengan mulai dibukanya fasilitas baru untuk kunjungan, muncul pertanyaan penting: Bagaimana melibatkan masyarakat sekitar tanpa mengganggu fungsi riset dan konservasi kawasan?
Pada Kamis, 11 Juni 2026, dua staf YTS mengikuti sosialisasi fasilitas edukasi konservasi gambut dan ekowisata di LAHG. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Centre for International Cooperation in Sustainable Management of Tropical Peatland (CIMTROP), Universitas Palangka Raya (UPR). Narasumber dalam kegiatan tersebut antara lain Dr. Adi Jaya, Kepala UPA PLG-CIMTROP, dan peneliti gambut Dr. Kitso Kusin. Perwakilan Dinas Pariwisata Kota Palangka Raya, Lurah Kereng Bangkirai, masyarakat sekitar, mahasiswa UPR dan LSM juga hadir untuk membahas penggunaan dan pengelolaan fasilitas tersebut.
Sebangau merupakan lanskap gambut yang luas, sedangkan LAHG adalah salah satu area riset di dalamnya yang dikelola CIMTROP-UPR. Kawasan ini digunakan untuk penelitian tentang gambut, vegetasi dan satwa liar. Fasilitas baru di Camp LAHG memungkinkan pengunjung untuk belajar dan langsung melihat ekosistem gambut melalui jalur yang telah disiapkan. Namun, berdasarkan informasi dari kegiatan sosialisasi, akses ke area konservasi tersebut tetap perlu dibatasi. Karena itu, sosialisasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang batasan kunjungan, aturan yang berlaku, serta bagaimana masyarakat sekitar dapat terlibat tanpa mengganggu fungsi riset dan konservasi.
Perjalanan kelotok sebagai pengantar ke ekosistem gambut
Kunjungan dimulai dari Dermaga Kereng Bangkirai, tempat peserta menaiki kelotok, perahu kayu bermotor yang umum digunakan sebagai transportasi sungai di Kalimantan. Setiap kelotok mengangkut hingga lima penumpang, dan perjalanan menuju fasilitas LAHG memakan waktu sekitar sepuluh menit. Di sepanjang tepi sungai, rasau (Pandanus helicopus) tumbuh rapat, sementara air sungai tampak gelap akibat senyawa organik dari sisa vegetasi yang mengalami dekomposisi sebagian di lingkungan gambut.

Bagi pengunjung yang belum mengenal gambut, perjalanan singkat ini dapat memunculkan banyak pertanyaan. Mengapa air sungai berwarna gelap? Tumbuhan dan satwa apa yang hidup di balik vegetasi yang terlihat dari kelotok? Warna gelap pada air merupakan ciri alami sungai gambut, salah satunya karena tanin dari bahan tanaman terurai dan larut ke dalam air. Penjelasan seperti ini penting agar pengunjung tidak langsung mengira air sungai tercemar, tetapi memahami bahwa sungai tersebut merupakan bagian dari ekosistem gambut.
Di sinilah peran motoris kelotok menjadi penting. Saat ini, kelotok hanya berfungsi sebagai moda transportasi menuju Camp LAHG. Namun, Yonatan Ari Santoso dari FISIP UPR menjelaskan bahwa motoris yang sudah dilatih juga dapat berperan aktif dalam memperkenalkan sungai dan ekosistem gambut di sekitarnya kepada pengunjung, termasuk sejarah lokal dan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum memasuki fasilitas utama
Motoris sudah mengenal jalur sungai, vegetasi setempat dan lokasi-lokasi yang kadang menjadi tempat satwa terlihat. Pengetahuan motoris dapat diperkuat melalui pelatihan dan materi dari peneliti CIMTROP dan UPR mengenai ekologi gambut, flora dan fauna. Dengan ilmu tersebut, motoris diharapkan dapat menjadi pemandu sejak pengunjung meninggalkan dermaga, sehingga perjalanan dengan kelotok menjadi bagian awal dari proses belajar tentang ekosistem gambut.
Memasuki hutan gambut melalui Tugu Walet dan Gerbang Pahlawan
Kelotok kemudian merapat di sebuah platform kayu yang dibangun di atas rawa gambut. Dr. Adi Jaya menjelaskan bahwa area ini juga dapat digunakan untuk penyambutan, foto bersama dan pertunjukan budaya skala kecil. Di salah satu sisinya berdiri Tugu Walet yang menunjukkan dukungan Xiao Xian Dun, perusahaan makanan asal Tiongkok yang menggunakan olahan sarang burung walet dalam produknya. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, Xiao Xian Dun membantu pembangunan beberapa fasilitas baru di Camp LAHG. Informasi pada tugu menyebutkan bahwa sarang burung walet dari Kalimantan Tengah, termasuk wilayah Sebangau, dikenal memiliki mutu tinggi.

Dari platform, pengunjung melanjutkan perjalanan menuju galeri melalui titian kayu (boardwalk) sepanjang 714 meter. Bagian awal jalur ini melewati bentang gambut terbuka, dengan genangan air gelap, rerumputan dan vegetasi rendah di kedua sisi. Titian memungkinkan pengunjung mengamati kondisi tersebut tanpa menginjak langsung permukaan rawa gambut. Dengan menjaga pengunjung agar tetap berada di jalur yang telah disiapkan, titian juga mengurangi risiko kecelakaan serta kerusakan pada vegetasi dan area riset di sekitarnya.
Dalam perjalanan menuju galeri, pengunjung akan melewati Gerbang Pahlawan, sebuah gerbang kayu bermotif Dayak yang menjadi pintu masuk ke kawasan hutan. Dr. Adi Jaya menjelaskan bahwa penamaan Gerbang Pahlawan memiliki makna filosofis tentang keberanian menjaga kawasan. Dalam konteks ini, menjadi ‘pahlawan’ berarti bersedia menaati aturan selama berada di kawasan LAHG, seperti tidak membuang sampah, menjaga jarak dari satwa, serta tidak mengganggu tanaman dan lokasi penelitian. Pemandu diharapkan dapat menjelaskan makna filosofis Gerbang Pahlawan dan motif Dayak yang menghiasinya agar pengunjung juga memahami nilai budaya yang terdapat di sepanjang jalur kunjungan.

Setelah melewati Gerbang Pahlawan, jalur titian berlanjut ke bagian hutan gambut yang lebih lebat. Pepohonan tinggi tumbuh di sisi kiri dan kanan titian. Sejumlah pohon telah diberi label agar pengunjung dapat mengenali jenisnya. Setelah mengikuti pelatihan, pemandu lokal diharapkan dapat melengkapi informasi pada label dengan menjelaskan ciri dan pemanfaatan pohon-pohon tersebut. Pelatihan perlu membekali pemandu dengan pengetahuan yang akurat mengenai vegetasi dan ekologi gambut serta cara menyampaikannya agar informasi yang diterima pengunjung benar secara keilmuan dan mudah dipahami.

Memahami ekosistem gambut di galeri LAHG
Setelah menyusuri titian, peserta tiba di showroom atau galeri yang juga digunakan sebagai ruang pertemuan selama sosialisasi. Galeri ini memuat informasi tentang gambut tropis, flora dan fauna, masyarakat di sekitar hutan, budaya Dayak, budidaya walet, serta penelitian yang dilakukan CIMTROP-UPR dan para mitranya. Saat tiba di galeri, pengunjung telah melihat sungai, pepohonan dan vegetasi rawa gambut di sepanjang jalur. Informasi yang tersedia membantu menjelaskan hubungan antara air, gambut, vegetasi, satwa dan kehidupan masyarakat di sekitar Sebangau.
“Tujuan utama kawasan ini adalah edukasi,” kata Dr. Adi Jaya dalam sosialisasi. Keberadaan galeri ini mendukung tujuan tersebut dengan menjelaskan berbagai proses dalam ekosistem gambut yang tidak terlihat selama observasi singkat.
Galeri ini juga memperkenalkan beragam flora dan fauna yang hidup di hutan rawa gambut. Orangutan paling sering menarik perhatian pengunjung, tetapi kawasan ini juga menjadi habitat bagi satwa liar lainnya seperti burung, reptil, serangga, owa-owa dan berbagai spesies lainnya.


Uji coba kunjungan di area riset LAHG
Sekitar 300 meter dari galeri terdapat camp yang menjadi tempat tinggal bagi para peneliti di LAHG. Dari camp tersebut, peneliti dapat menjangkau lokasi penelitian untuk mengumpulkan data. Akses ke lokasi camp riset dan menara pengamatan untuk kegiatan penelitian memerlukan izin dari CIMTROP.
Dr. Adi Jaya menjelaskan bahwa CIMTROP masih menguji pengaturan kunjungan ke LAHG. Secara garis besar, ada dua jenis kunjungan. Pengunjung umum dapat membeli tiket dan mengikuti jalur yang telah ditentukan, dengan kuota sekitar 50 orang per hari, maksimal 15 orang dalam satu kelompok, dan durasi kunjungan sekitar dua hingga tiga jam. Peneliti, tamu institusi dan kelompok dengan tujuan belajar atau riset dapat mengajukan permohonan langsung kepada CIMTROP agar rute dan pendampingan disesuaikan dengan tujuan kunjungan serta kegiatan riset yang sedang berlangsung. Pembatasan jumlah pengunjung dan ukuran kelompok diperlukan untuk mencegah kepadatan di kawasan yang sensitif dan memudahkan pendampingan.

Menara pengamatan, dengan tinggi 40 meter, menjadi salah satu fasilitas di LAHG yang paling banyak menarik perhatian. Menara ini digunakan untuk penelitian dan pemantauan lingkungan. Dari atas tajuk hutan, peneliti dapat mengamati struktur hutan rawa gambut serta aktivitas burung, orangutan, kelasi dan owa-owa. Saat cuaca cerah, pandangan dari menara dapat menjangkau Bukit Tangkiling dan sebagian lanskap Palangka Raya. Menurut Dr. Adi Jaya dan Dr. Kitso Kusin, pukul 14.00 hingga 16.00 merupakan waktu terbaik untuk mengamati satwa yang aktif beraktivitas di jam-jam tersebut. Kunjungan ke menara perlu mempertimbangkan jumlah pengunjung, ketersediaan pendamping, dan cuaca. Karena jalur menuju menara juga melewati habitat satwa liar, setiap kunjungan harus mendapat persetujuan dari CIMTROP. Masa uji coba ini memberi CIMTROP kesempatan untuk melihat apakah pengaturan kunjungan berjalan dengan baik di lapangan dan tidak mengganggu kawasan dan kegiatan riset. Temuan selama uji coba dapat digunakan untuk memperbaiki aturan dan prosedur kunjungan ke depan.



Pengelolaan sampah sebagai bagian dari konservasi
Ketika LAHG mulai menerima pengunjung, sampah menjadi salah satu persoalan yang perlu diantisipasi sejak awal. Dr. Adi Jaya menjelaskan bahwa CIMTROP mendorong pengunjung menggunakan tumbler untuk mengurangi botol plastik sekali pakai. Pengunjung juga diminta memasukkan sampah ke dalam karung yang telah disediakan atau membawanya pulang agar tidak ada sampah yang tertinggal di sepanjang jalur kunjungan.
Aturan ini berkaitan langsung dengan kondisi LAHG sebagai habitat satwa dan kawasan gambut. Sampah plastik yang tertinggal dapat dibawa, digigit atau tertelan satwa. Pada musim kering, sampah juga dapat memperparah risiko kebakaran ketika gambut sedang dalam kondisi mudah terbakar. Karena itu, arahan tentang penggunaan tumbler dan pengelolaan sampah perlu disampaikan sebelum pengunjung naik kelotok, agar mereka tidak membawa banyak plastik sekali pakai dan tidak meninggalkan sampah di kawasan LAHG.
Partisipasi masyarakat dalam ekowisata
Dalam paparannya, Yonatan Ari Santoso menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam wisata edukasi dan konservasi. Pengunjung diharapkan pulang dengan pengetahuan tentang ekosistem gambut serta kehidupan masyarakat di sekitar Sebangau. Warga setempat dapat ikut membangun pengalaman belajar tersebut dengan membagikan pengetahuan mereka tentang sungai, hutan dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada keduanya.
Keterlibatan masyarakat lokal dapat dimulai sejak pengunjung tiba di Kereng Bangkirai. Setelah mengikuti pelatihan, harapannya motoris juga bisa menjadi pemandu, memperkenalkan kondisi sungai dan ekosistem gambut selama perjalanan menuju camp LAHG. Pemandu lokal yang telah dilatih juga bisa membantu menjelaskan mengenai tumbuhan, satwa, sejarah setempat dan pengetahuan budaya lokal. Selain jasa kelotok dan pemandu wisata, peluang ekonomi juga dapat berkembang melalui penjualan makanan dan produk lokal.
Dr. Adi Jaya menyampaikan bahwa CIMTROP berencana melibatkan dosen dan peneliti UPR dalam menyiapkan materi tentang flora dan fauna di ekosistem gambut Sebangau. Materi ilmiah tersebut dapat dipadukan dengan pengetahuan masyarakat mengenai sejarah lokal, tanaman obat, pemanfaatan hutan dan perubahan lingkungan yang mereka amati. Pelatihan diperlukan agar pemandu dapat menyampaikan informasi secara akurat.
Membuka LAHG untuk kunjungan dengan tetap menjaga fungsinya
Fasilitas baru di LAHG membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk mengenal ekosistem gambut Sebangau secara langsung. Pengunjung dapat melihat hubungan antara sungai, rawa gambut, hutan dan satwa liar, lalu memahami mengapa kawasan ini perlu dijaga dan bagaimana pemanfaatannya. Pengalaman tersebut akan lebih bermakna ketika masyarakat sekitar ikut terlibat aktif membagikan pengetahuan mereka dan memperoleh manfaat dari kegiatan ekowisata.
Pembukaan LAHG juga harus tetap mengikuti tujuan awal kawasan sebagai tempat riset dan konservasi. Oleh karena itu, jumlah pengunjung, jalur yang boleh dilalui dan kegiatan yang dapat dilakukan perlu diatur dan dikelola dengan baik. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan wisata dapat membantu pengunjung mengenal ekosistem gambut tanpa mengganggu kegiatan penelitian di sekitar kawasan dan kehidupan satwa di dalamnya.
Kunjungan ke LAHG dapat memberi nilai lebih ketika pengunjung pulang dengan pengetahuan tentang ekosistem gambut dan masyarakat sekitar memperoleh manfaat dari keterlibatan mereka. Dukungan berbagai pihak juga diperlukan agar sumber daya, pengetahuan dan kapasitas yang tersedia dapat digunakan bersama untuk mengembangkan ekowisata edukasi di LAHG dengan tetap menjaga fungsi riset dan konservasinya.
