REVITALISASI
RESTORASI LAHAN GAMBUT

Revitalisasi mata pencaharian lahan basah membutuhkan penerapan sistem penggunaan lahan alternatif yang memungkinkan pertanian dan kehutanan berkembang dalam kondisi basah. Sistem ini harus mengoptimalkan penggunaan spesies produktif yang beradaptasi dengan lahan basah, dan juga harus memberikan prospek pembangunan ekonomi yang layak bagi masyarakat lokal termasuk investasi dari sektor karbon.

Lahan gambut yang basah dan sehat adalah satu-satunya jalan berkelanjutan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, kebakaran dan degradasi lahan gambut, serta mencegah hilangnya mata pencaharian. Untungnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem produksi lahan basah terintegrasi dapat menggabungkan produksi berbagai jenis makanan, bahan bakar, serat dan produk hutan, dan menciptakan praktik yang menghasilkan pendapatan yang mendorong ketahanan.

Kombinasi berbagai sumber mata pencaharian dapat membantu mengatasi hambatan adopsi dan memungkinkan peningkatan pendapatan misalnya sambil menunggu spesies tumbuh. Lebih dari delapan puluh spesies tanaman asli yang tumbuh di lahan gambut Indonesia telah diidentifikasi berpotensi untuk penggunaan ekonomi utama. Spesies 'paludikultur' ini adalah pohon yang dapat menghasilkan produk yang bermanfaat seperti buah-buahan, kacang-kacangan atau lateks. 

Jenis tanaman paludikultur juga mencakup banyak jenis kayu keras komersial dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti Jelutong (Dyera polyphylla), Tengkawang (Shorea spp.), Rotan (Calamus spp.) dan Sagu. Tanaman komersial Paludikultur dapat menghasilkan berbagai komoditas termasuk makanan, pakan, serat dan bahan bakar, serta kayu berharga dan bahan baku lainnya untuk berbagai keperluan. Budidaya spesies lahan basah asli ini dapat meningkatkan mata pencaharian desa, dan membawa manfaat lingkungan yang penting seperti kualitas air yang lebih baik, penurunan frekuensi kebakaran dan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi.

Pendekatan 'paludikultur' ini dianggap sebagai salah satu pendekatan kunci yang dapat dilakukan dalam program revitalisasi, karena dapat dilakukan dalam kombinasi dengan program pembasahan penuh. Praktek-praktek seperti penangkapan ikan dengan intensitas rendah, pemeliharaan ternak skala kecil, produksi kayu skala kecil, dan banyak kegiatan lainnya juga menawarkan peluang menghasilkan pendapatan. 

Perikanan rawa gambut pun dapat memberikan kontribusi penting bagi ketahanan pangan dan menyediakan sumber protein yang berlimpah dari spesies ikan yang diadaptasi secara lokal. Pemanenan hasil hutan non-kayu dari hutan rawa gambut yang direstorasi atau diregenerasi juga dapat menambah mata pencaharian lokal, tetapi pengembangan ini akan memakan waktu karena sebagian besar hutan rawa gambut saat ini terancam atau terdegradasi parah.