Seorang Petani Berbakti untuk Masa Depan

Suku Dayak mempraktikkan ladang berpindah dengan membakar sejak dahulu kala. Meskipun ada undang-undang di Kalimantan yang melarang pembakaran hutan dan lahan, para petani masih membuka lahan mereka dengan cara membakar. Ini adalah cara tercepat dan paling hemat biaya untuk membersihkan lahan dan menyuburkannya. Namun, ada konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan dalam jangka panjang jika dilakukan di lahan gambut. Akhmad Tamanuruddin, atau yang akrab disapa Pak 'Taman', menyadari konsekuensi itu secara keras. 

Sebuah Pelajaran Berat

Ia terkenal karena berhasil bertani di lahan gambut tanpa membakar. Di masa kecilnya, ia belajar bertani dari orang tuanya di Ngawi, Jawa Timur. Pada tahun 1980, Pak Taman bertransmigrasi ke Kalimantan Tengah bersama istri dan anaknya yang masih berusia 11 bulan. Tempat pertama yang ia tinggali sering mengalami banjir, sehingga tidak memungkinkan untuk bertani di sana. Lalu, dia pindah ke tempat lain di mana dia mencoba menanam bibit yang dibawanya dari Jawa dan tidak ada yang tumbuh karena keasaman tanah yang tinggi. Ia bekerja di Muara Teweh selama empat tahun sebelum akhirnya menetap di tempat tinggalnya sampai sekarang di Kalampangan, Palangka Raya. Lahan gambut memang tidak cocok untuk pertanian intensif dan Pak Taman menyadari bahwa lahannya tidak subur. Ia mengamati bahwa tanaman akan tumbuh lebih baik di area yang baru terbakar. Oleh karena itu, ia mencoba membakar lahannya untuk sementara waktu, yang hanya memberikan manfaat jangka pendek. Pembakaran menghilangkan lapisan tanah atas, bagian tanah yang paling kaya akan unsur hara, dan secara bertahap menyebabkan tanah menjadi surut. Tanah yang hilang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk pulih kembali. Itulah yang terjadi pada tanahnya dan itu adalah pelajaran terberatnya. Ia bersumpah untuk tidak pernah membakar lagi.

 

Waktu dan Kegigihan

Pak Taman memiliki tiga sifat yang mendorongnya untuk mencari cara yang benar untuk bertani di lahan gambut. Pertama, ia keras kepala dan gigih. Ia mencoba segala cara dengan sumber daya yang ia miliki untuk menyuburkan lahannya. Semua ia lakukan sendiri secara manual. Pertama, ia mencoba menggunakan dolomit dan ada sedikit peningkatan pada hasil panennya, tetapi itu tidak cukup baik baginya. Kemudian, satu per satu, ia menambahkan pupuk kandang sapi dan kemudian tanah mineral sampai ia merasa puas. Ia mengamati kualitas tanaman singkongnya. Jika tanamannya tumbuh dengan baik, berarti tanahnya cukup subur, karena menurutnya singkong membutuhkan banyak unsur hara. Sifat kedua adalah ia berpikir jauh ke masa depan dan bagaimana tindakannya di masa sekarang akan mempengaruhi keturunannya; itulah inti keberlanjutan. Hasil dari pembakaran bisa langsung tercapai, tetapi kerugian yang timbul di lingkungan dalam jangka waktu panjang jauh lebih besar daripada manfaat langsungnya. Itulah sebabnya ia sangat menyesal ketika membakar lahannya pada awalnya. Yang terakhir, Pak Taman mengatur waktunya sangat baik. Ia bekerja di sebuah sekolah dasar, sebagai guru agama, sambil bekerja di kebunnya. Setiap pagi, selama tiga puluh menit, ia mengerjakan kebunnya sebelum berangkat ke sekolah. Dia tidak pernah datang terlambat ke sekolah. Ia pensiun sebagai guru pada tahun 2014. 

Dua baris tanaman singkong ditanam di antara pohon jelutung.

Kami berjalan di kebunnya di pagi menjelang siang. Tanahnya lembut, gembur, gelap dan berlumut. Di lahan seluas dua hektar, Pak Taman menanam singkong, cabai, rambutan, dan pisang. Melewati deretan pohon jelutung setinggi 10 meter, rasanya seperti berada di hutan. Ia mulai menanam pohon jelutung pada tahun 2004 pada Hari Natal (ia ingat betul) dan menempatkan tanaman sayurnya di antara pohon-pohon tersebut. Ini merupakan penerapan model agroforestri di mana pohon-pohon tersebut menjadi produk utama. Pohon-pohonnya menyediakan keteduhan dan menahan curah hujan untuk tanaman yang lebih rendah. Ia mengatakan bahwa pohon-pohon dan tanaman sayurnya saling mendukung pertumbuhan satu sama lain. Hasil panennya yang dibeli oleh pengepul sering kelebihan dan ia berikan kepada pengunjung. Ada tiga sumur bor yang ia gunakan untuk menyirami tanaman dan memadamkan api yang menjalar ke lahannya, yang pernah terjadi di masa lalu.



Pak Taman menerapkan model agroforestri diekbunnya, dengan menanam pohon jelutung (Dyera sp).

Sebuah Berkah

Pak Taman menjadi terkenal secara lokal pada tahun 2009 karena metodenya berkebun tanpa membakar, namun baru pada tahun 2016 ia mulai dikenal secara internasional. Suatu hari, seorang pria datang tanpa pemberitahuan ke kebunnya. Dia langsung bertanya kepada Pak Taman, "Mana yang lebih mahal, membakar atau tidak membakar?". Pak Taman tidak mengenal orang itu dan memintanya untuk memperkenalkan diri. Namanya Suprapto dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pertemuan ini terjadi setelah kebakaran hutan pada tahun 2015, ketika pemerintah mulai serius menangani masalah itu. Ada kabar bahwa Pak Taman berhasil bertani tanpa membakar dengan hasil yang bagus, sehingga pemerintah mengirim Pak Suprapto untuk menyelidikinya. Jawaban Pak Taman sederhana saja: "Cara saya memang lebih mahal di jangka pendek, tapi tidak seberapa dibanding kerugian yang timbul di lingkungan dalam jangka panjang jika terus membakar lahan." Pak Suprapto perlahan memeluknya, kagum dengan kesederhanaan dan kebenaran jawaban tersebut. Sejak saat itu, para petani dari seluruh Kalimantan Tengah datang berkunjung ke kebun Pak Taman dan belajar darinya. Beliau juga dikunjungi oleh orang asing dari Amerika Latin, Jerman, Spanyol, negara-negara ASEAN, Jepang dan Australia. Beliau juga diundang untuk menjadi pembicara di beberapa seminar internasional, salah satunya di Maroko. Ia sangat bersyukur karena banyak orang yang ingin belajar darinya, yang baginya berarti ilmu yang dia miliki adalah sebuah berkah.

Salah satu manfaat menjadi petani adalah terjaganya kesehatan. Di usia 71 tahun, Pak Taman dalam kondisi lebih sehat dibandingkan dengan rekan-rekan seumurnya.

Pak Taman belajar sendiri bagaimana bertani di lahan gambut tanpa membakar. Tidak ada kursus khusus yang bisa dipelajari sembarang orang. Ini membutuhkan dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Ia mengajarkan metode ini kepada tetangga-tetangganya yang bertani, namun mereka tidak menerapkannya dan tetap membakar untuk membuka lahan. Pak Taman beberapa kali mengatakan kepada kami bahwa tanah di lahan tetangganya lebih rendah dari miliknya, bahkan hingga setengah meter. Salah satu tetangganya pernah gagal panen jagung karena banjir yang diakibatkan oleh tanah yang lebih rendah. Itu adalah hasil dari pembakaran selama bertahun-tahun. Kami menanyakan pendapat Pak Taman tentang orang Dayak yang secara tradisional membakar lahan mereka dalam ladang berpindah. "Mereka terus membakar karena tradisi, dan alasan untuk tradisi tersebut telah hilang seiring berjalannya waktu dan mungkin sudah ketinggalan zaman. Ada aspek baik dan buruk dalam sebuah tradisi. Kita harus mempertahankan yang baik dan mengubah yang buruk. Ladang berpindah sebenarnya membutuhkan lebih banyak waktu dan energi daripada pertanian permanen. Ada juga emisi gas rumah kaca dari kebakaran. Setiap kali ada kabut asap, sekolah-sekolah ditutup dan, sebagai pensiunan guru, saya tidak setuju dengan apa pun yang menghambat pendidikan anak, karena mereka adalah pemimpin masa depan kita". 

 

Facebook
Email
Twitter
LinkedIn
WhatsApp