Terlalu Banyak Program Mata Pencaharian di Tumbang Nusa

Terkait upaya restorasi gambut di Kalimantan Tengah, ada satu tempat yang menjadi fokus perhatian internasional dan nasional. Tempat tersebut adalah Desa Tumbang Nusa, yang terletak 40 km sebelah tenggara Palangka Raya. Desa ini berada di dalam area bekas Proyek PLG, di mana 1 juta hektar lahan gambut terdegradasi akibat penebangan dan pengeringan. Proyek yang gagal tersebut telah menyebabkan berbagai masalah lingkungan. Banjir semakin sering terjadi dari tahun ke tahun, dan kebakaran hutan yang dahsyat terjadi pada tahun 1997/98, dan hampir setiap tahun selama tahun 2015-2019. Tahun lalu, pada tahun 2023, terjadi polusi udara yang tak tertahankan dalam bentuk kabut asap beracun. Ketika gambut terbakar, gambut akan mengeluarkan sejumlah besar CO2 yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca. Karena alasan ini, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan pihak-pihak lain telah memprioritaskan Tumbang Nusa dalam upaya mereka untuk merestorasi lahan gambut. Salah satu strategi mereka adalah revitalisasi mata pencaharian masyarakat yang berkelanjutan, berkeadilan, dan memfasilitasi restorasi lahan gambut. Upaya revitalisasi hingga saat ini menjadi fokus dari sebuah studi yang dilakukan oleh Dr Daniel Mendham dan rekan-rekannya, yang diterbitkan pada tahun 2024, untuk mengidentifikasi tindakan apa saja yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan dampaknya terhadap masyarakat.

'Kelotok' bersiaga untuk mengangkut warga di Tumbang Nusa, di mana banjir telah memutus akses jalan utama desa.

Sejak tahun 2003, berbagai pihak telah memprakarsai total 15 program mata pencaharian di Tumbang Nusa, dan 18 plot tambahan telah dibuat untuk mendemonstrasikan beberapa pilihan mata pencaharian yang ramah gambut. Sebagian besar inisiatif ini tidak menghasilkan perubahan praktik yang substansial di lapangan, dan hanya tiga program yang dianggap efektif. Program yang efektif adalah program yang setidaknya beberapa elemennya telah diadopsi oleh anggota masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam demplot. Pilihan utama yang telah diadopsi secara luas adalah budidaya lebah tanpa sengat dari keluarga Meliponini, yang secara lokal dikenal sebagai kelulut. Biaya modalnya rendah dan hanya membutuhkan sedikit perawatan. Satu sarang dapat dipanen setiap dua minggu, menghasilkan sekitar 500 ml madu, yang dapat menghasilkan sekitar 1-2 juta rupiah per tahun. Selain menguntungkan, beternak lebah kelulut juga mendukung restorasi lahan gambut, karena lebah-lebah ini memanfaatkan pohon-pohon hutan rawa gambut asli dan bunganya untuk menghasilkan madu.

Peternak lebah memanen madu kelulut dengan menggunakan alat sedot berbentuk tabung.

Alasan Kegagalan

Sedangkan untuk inisiatif lainnya, sebagiannya dipertahankan, atau malah ditinggalkan sama sekali, tanpa ada adopsi lebih lanjut dari anggota masyarakat. Studi ini mengidentifikasi beberapa opsi untuk meningkatkan efektivitas program-program tersebut di masa depan. Alasan utama kegagalan program-program tersebut adalah karena masyarakat Tumbang Nusa tidak dilibatkan sama sekali dalam perencanaan program-program tersebut. Program-program tersebut disusun tanpa partisipasi dari masyarakat desa, sehingga mereka tidak mempunyai rasa kepemilikan atau kontrol. Sebagai contoh, jenis tanaman yang dipilih dalam banyak program didasarkan pada kebutuhan pasar, bukan kebutuhan masyarakat. Selain itu, masyarakat Dayak tidak terbiasa berkebun di lahan gambut. Mereka mengandalkan tanah mineral di daerah tepi sungai untuk menanam padi gogo, karet, rotan, dan sayuran, serta secara tradisional mempraktikkan pertanian ladang berpindah. Oleh karena itu, untuk beralih ke budidaya lahan gambut akan membutuhkan waktu, usaha dan peningkatan kapasitas yang cukup besar bagi mereka jika mereka ingin berhasil mengadopsi metode pertanian intensif yang digunakan dalam program-program ini.

 

Pada awalnya, masyarakat bermukim di dekat Sungai Kahayan untuk mempertahankan mata pencaharian tradisional mereka. Namun, setelah tahun 2013, dengan dibangunnya jembatan sepanjang 10 km yang menghubungkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, beberapa orang menggunakan kesempatan tersebut untuk mencoba berdagang dan pindah ke dekat jalan yang dikelilingi oleh lahan gambut. Mereka juga mencoba bertani di lahan gambut, dengan pengetahuan yang terbatas, dan menyerah setelah mengalami kegagalan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak di Tumbang Nusa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada dengan sumber daya yang mereka miliki. Secara umum, mereka tidak mengadopsi sebagian besar program mata pencaharian karena membutuhkan terlalu banyak perubahan dalam kebiasaan mereka. Jika inisiatif mata pencaharian baru ingin lebih berhasil di masa depan, mereka juga harus bekerja dengan model mental petani tentang bagaimana mereka dapat memanfaatkan lahan gambut, dan tidak memaksakan ide-ide baru atau asing yang tidak akan berhasil bagi mereka.

 

Pelajaran Terpetik

Terdapat fokus yang cukup besar pada mata pencaharian berbasis lahan (misalnya, berbagai jenis tanaman atau ternak yang dapat dibudidayakan oleh para petani), tetapi semakin jelas bahwa mata pencaharian berbasis lahan risikonya sangat tinggi, terutama dengan adanya perubahan iklim yang menyebabkan meningkatnya frekuensi kekeringan, kebakaran, dan banjir. Oleh karena itu, tim menyarankan bahwa inisiatif berbasis lahan cenderung meningkatkan kerentanan masyarakat, sehingga program-program mata pencaharian di lahan gambut di masa depan harus berfokus pada opsi-opsi yang dapat mengurangi kerentanan, seperti mengandalkan spesies hutan rawa gambut yang tumbuh secara alami, dan/atau pembayaran untuk jasa ekosistem yang tidak memerlukan penanaman di lahan gambut.

Meskipun studi ini menunjukkan bahwa Tumbang Nusa telah mengalami kejenuhan terhadap program mata pencaharian yang kurang efektif, ternyata hal ini juga terjadi di banyak desa di wilayah ini, dan kemungkinan besar di seluruh Indonesia. Masyarakat cenderung memperlakukan aliran proyek yang terus-menerus sebagai sumber mata pencaharian mereka, dari pada mempraktikkan sendiri inisiatif yang ditunjukkan/dikembangkan. Alasan kurangnya keberhasilan tidak sepenuhnya terletak pada satu pihak saja. Jelas bahwa sebuah program perlu memiliki pendekatan yang terintegrasi, di mana donor, pelaksana, dan penerima manfaat memiliki kesadaran yang sama akan perlunya transisi menuju mata pencaharian yang ramah gambut dan bagaimana hal tersebut dapat terwujud. Masyarakat perlu melihat bukti nyata bahwa program mata pencaharian tertentu dapat berhasil, dan program tersebut harus sesuai dengan model mental mereka dalam menghasilkan mata pencaharian di lahan gambut. Para penulis artikel tersebut menegaskan bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, perlu ada seorang tokoh yang berhasil mengadopsi program mata pencaharian, yang kemudian akan ditiru oleh anggota masyarakat lainnya. Ketika mereka melihat manfaat ekonomi dan lingkungan, mereka akan lebih aktif berpartisipasi dan menjadi pendorong perubahan menuju restorasi gambut.


Artikel jurnal yang dirujuk:

Mendham, D., Sakuntaladewi, N., Ramawati, Yuwati, T. W., Budiningsih, K., Prasetyo, B. D. & Handoyo (2024). Facilitating new livelihoods to promote peatland restoration in Indonesia -what are the challenges for ensuring sustainable and equitable livelihood transitions?. Mires and Peat. 30 (2024). 14. 10.19189/MaP.2023.OMB.Sc.2105613.

Facebook
Email
Twitter
LinkedIn
WhatsApp