IBILAGA: Mengembangkan Industri Perikanan Air Tawar di Kalimantan Tengah

Ikan betok (Anabas testudineus), yang secara lokal dikenal sebagai papuyu adalah ikan tangguh yang ditemukan di lahan gambut yang dapat bertahan hidup di luar air selama enam hingga sepuluh jam, menggunakan organ seperti paru-paru di kepalanya untuk menghirup udara. Ikan ini juga dapat merangkak di darat dengan menggunakan sirip dadanya. Tim kami mengikuti petunjuk tentang sebuah tempat di Desa Garung, di mana ikan ini dibesarkan. Kami menyadari bahwa tempat tersebut berada tepat di seberang jalan pabrik karet tempat para petani karet dari program mata pencaharian di Pilang menjual produk mereka. Fasilitas ini bernama IBILAGA, yang merupakan singkatan dari Instalasi Budidaya Ikan Lahan Gambut. Di sana kami bertemu dengan koordinatornya, Pak Juliansyah, yang dengan ramah membawa kami keliling.

 

 

Mereka memelihara induk ikan papuyu di kolam-kolam melingkar ini.

IBILAGA merupakan proyek pemerintah di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan. Fasilitas ini didirikan pada tahun 2008 dan diawasi oleh Balai Perikanan Budidaya Air Tawar di Mandiangin, Banjar. Saat ini, mereka membudidayakan tiga jenis ikan: patin, papuyu, dan gabus, yang dijual kepada masyarakat dalam bentuk anakan, indukan, dan ikan konsumsi. Pendapatan dari penjualan ini menjadi pendapatan pemerintah. Untuk anakan, mereka memiliki kuota tahunan sebesar satu juta ikan untuk didistribusikan secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkannya dan juga untuk mengisi kembali populasi ikan di alam liar. Sebagai contoh, mereka mengirimkan 22.000 anakan ikan gabus ke Kasongan sehari setelah kami mengunjungi tempat tersebut. Pada waktu kapanpun, akan ada sekitar 500.000 ikan yang hidup di balai tersebut.

 

Keramba jaring apung adalah salah satu cara untuk memelihara ikan. Ini adalah sebuah demonstrasi yang dapat dipelajari oleh masyarakat.

Sebuah Fasilitas Penelitian

Tempat ini juga berfungsi sebagai pusat pelatihan dan penelitian bagi siapa saja yang tertarik dengan industri perikanan air tawar. Mereka telah menerima pembudidaya ikan, peneliti dari universitas dan BRIN, dan Dinas Perikanan dari beberapa kabupaten di Kalimantan. Setiap tahun mereka selalu kedatangan siswa dari sekolah kejuruan dan Universitas Palangka Raya untuk magang. Beberapa kolam ikan berfungsi sebagai demonstrasi bagi masyarakat yang ingin belajar. Dengan prosedur yang tepat, siapa pun bisa mendapatkan kursus kilat tentang budidaya ikan, yang mencakup semua langkah mulai dari pemijahan hingga penjualan. Pak Juliansyah sangat akomodatif ketika kami bertanya bagaimana mereka memijah ikan papuyu. Timnya mengumpulkan tiga ekor ikan jantan yang sudah siap sedia sperma, dan satu ekor ikan betina yang sudah menggembung dengan telur di dalamnya. Untuk menginduksi perkawinan, mereka menyuntikkan betina dengan 0,1 ml hormon yang diambil dari kepala ikan salmon dan jantan masing-masing 0,05 ml. Kemudian mereka memasukkan keempatnya ke dalam ember besar berisi air dan menutupnya. Ikan-ikan tersebut akan dibiarkan semalaman dan akan terdapat telur-telur yang telah dibuahi mengambang di air keesokan harinya. Setelah dua hingga tiga hari, anakan yang baru menetas dipindahkan ke kolam pembesaran, di mana mereka akan menjadi remaja dalam waktu 35 hari.
 
Kiri: Ikan papuyu betina (kiri) dan jantan (kanan) siap untuk kawin. Kanan: Mereka disuntik dengan hormon yang disebut Ovaprim.

Fokus utama dalam proyek ini adalah untuk mengembangkan industri ikan air tawar di Kalimantan Tengah. Pak Juliansyah berpikir bahwa perkembangan industri ini masih kurang, jika dibandingkan dengan Kalimantan Selatan. Dia menjelaskan bahwa “Masyarakat tidak mau memelihara ikan gabus atau papuyu karena membutuhkan waktu yang lama. Jadi, salah satu tujuan kami adalah untuk mempersingkat waktu pertumbuhan ikan”, seperti yang telah mereka lakukan untuk ikan patin, dari 7-8 bulan menjadi empat bulan saja. Mereka mencoba bereksperimen dengan tiga faktor: pakan ikan, genetic stock, dan lingkungan. Faktor lainnya adalah rasio konversi pakan, yaitu 1.7:1 untuk ikan air gambut seperti gabus dan papuyu. Ini artinya jika, sebagai contoh, Anda ingin kenaikan berat sebesar 100 g, Anda memerlukan 170 g pakan. Dengan waktu pertumbuhan yang lebih singkat untuk mencapai berat tertentu, akan lebih menarik bagi pembudidaya ikan, karena mereka akan mendapatkan hasil yang lebih banyak.

 

Anakan papuyu dengan panjang 3-5 cm siap untuk didistribusikan.

Tantangan Air Gambut

Air gambut secara alami bersifat asam, dengan pH 3-4, dan memiliki kadar oksigen yang rendah. Walaupun papuyu dapat hidup dalam kondisi ekstrem, Pak Juliansyah tidak begitu yakin apakah keadaan lingkungan itu kondusif untuk pertumbuhan ikan. Tahun kemarin kami juga mengunjungi fasilitas budidaya yang serupa di Bukit Batu, yang juga memelihara ikan gabus dan papuyu untuk mengisi kembali populasi liar (link ke artikel). Perbedaan terbesar di IBILAGA adalah ikan dikondisikan untuk hidup di air yang memiliki pH mendekati netral, yang memiliki kadar oksigen yang cukup. Ikan diketahui makan lebih sedikit ketika oksigen tidak cukup dan jika tidak makan, mereka tidak akan tumbuh. Jadi, untuk mengeliminasi risiko ini, mereka menambahkan kapur ke air di IBILAGA untuk menaikkan pH. Kekurangan dari hal ini adalah ikan kemungkinan tidak akan bertahan jika dilepasliarkan ke air gambut, karena mereka sudah terbiasa dengan pH 5-6. Pada kasus peternakan ikan di Mentaren, Pulang Pisau, terjadi intrusi air gambut ke dalam kolam ikan, sehingga mereka menambahkan kapur untuk mencapai pH yang sesuai.

 

Pak Juliansyah (kemeja putih), dengan stafnya, Pak Ishak (ditengah) yang bertanggung jawab untuk produksi ikan patin dan papuyu, dan Pak Desi (kanan) yang bekerja dibawah Pak Ishak.

Pak Juliansyah berjuang untuk tetap mengembangkan perikanan Kalimantan Tengah agar dapat bersaing dengan Kalimantan Selatan. Ia percaya bahwa Kalimantan Tengah memiliki potensi yang besar karena memiliki banyak perairan dan lahan yang besar. 

Facebook
Email
Twitter
LinkedIn
WhatsApp