Menerapkan Praktik yang Lebih Baik untuk Penyadapan Karet

Di banyak desa di Kalimantan Tengah, menyadap karet merupakan profesi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah Pilang di Kabupaten Pulang Pisau, di mana sekitar 70% rumah tangga membudidayakan karet. Pak Jonedy, kepala salah satu RT di sana, memanen getah karet (lateks) dari pohon-pohon di kebun kecilnya seluas lebih dari 40 hektar yang ia warisi dari keluarganya. Tiga kali seminggu, ia menggunakan kelotok (perahu kecil bermesin) menyusuri Sungai Kahayan selama 30 menit untuk mencapai kebunnya yang terpencil di tengah hutan alam di atas gambut dangkal. Pada hari kerja tersebut, ia membuat sayatan baru pada pohon-pohon di sepanjang satu jalur, lalu kembali ke titik awal dan menambahkan pembeku pada wadah-wadah yang telah diisi dengan getah karet, yang akan mengeras dalam waktu 2-3 jam. Praktik ini hampir tidak berubah selama 50 tahun terakhir.


Dengan setiap sayatan baru, getah karet akan mengalir keluar selama setengah hari.

Pada bulan Mei dan Juni, Yayasan Tambuhak Sinta mengadakan dua sesi pelatihan untuk petani karet kecil di Pilang. Salah satunya adalah tentang cara mengatasi hama dan penyakit yang menyerang pohon dan yang lainnya berfokus pada cara meningkatkan kualitas getah karet yang mereka hasilkan. PT Kahayan Berseri, perusahaan yang membeli karet dari para petani, juga terlibat dalam pelatihan ini. Ini adalah pertama kalinya para petani menerima pelatihan formal untuk pertanian karet. Mereka belajar tentang metode yang lebih baik yang akan meningkatkan kualitas produk lateks.

Karet Berkualitas Lebih Baik

Yang menentukan harga produk adalah K3 (kadar karet kering). Biasanya, getah karet yang dikumpulkan dibiarkan di tempat terbuka. Kemudian direndam di dalam air dan ditambahkan benda asing untuk menambah beratnya, dengan harapan dapat meningkatkan harga jual. Jenis karet ini disebut bokar basah dengan kadar K3 sekitar 50% dan dijual dengan harga Rp6.000-7.300, sedangkan bokar bersih dengan kadar K3 65% dijual dengan harga Rp11.630-12.350. Selama sesi pelatihan, PT Kahayan Berseri, yang memiliki pabrik pengolahan, mengajarkan dan mendorong para petani untuk memproduksi bokar bersih, sebuah solusi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dengan bokar basah, pabrik harus meluangkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk membersihkan produk dan petani mendapatkan lebih sedikit uang. Untuk mencapai K3 sebesar 65% dengan bokar bersihgetah karet yang terkumpul harus ditempatkan di tempat penampungan sederhana yang melindunginya dari sinar matahari dan hujan serta tidak direndam dalam air. Seorang petani karet harus menginvestasikan sekitar Rp200.000 untuk membangun tempat penyimpanan ini. Sebagian besar petani yang mengikuti pelatihan enggan mencobanya, dengan alasan terlalu merepotkan, rumit, dan mahal. 

This is Bu Elsiah displaying the latex drying in the shelter. It takes 2 weeks for the latex to dry before it is ready to be sold to the factory.

Untungnya, beberapa rumah tangga, termasuk rumah tangga Pak Jonedy, mencoba metode baru ini dan melakukan penjualan bokar bersih pertama mereka pada tanggal 19 September. Pak Jonedy dan Pak Rahmat masing-masing menjual 126 kg dan 139 kg dengan harga Rp11.630. Bulan berikutnya lebih baik lagi, yaitu 5 rumah tangga menjual 418 kg dengan harga Rp12.853/kg. Para petani sangat senang ketika karet mereka dihargai 65% K3. "Saya lebih suka yang ini dari pada yang direndam," kata Pak Rahmat, salah satu petani yang mengadopsi metode bokar bersih Semoga ini menjadi contoh bagi petani karet lainnya dan mereka akan segera mengikutinya, karena lebih menguntungkan. Jika semua petani karet di Pilang menerapkan metode yang sederhana namun efektif ini, maka akan meningkatkan kesejahteraan di desa tersebut.

 

Di pabrik, getah karet yang sudah kering ditimbang dan dinilai K3-nya.
Facebook
Email
Twitter
LinkedIn
WhatsApp