Menyelamatkan Lahan Gambut dengan Sedotan Ramah Lingkungan

Purun (Lepironia articulata) merupakan salah satu jenis alang-alang yang tumbuh di lahan gambut. Tanaman ini dimanfaatkan dalam kerajinan anyaman seperti tikar, tas, dan topi yang menjadi ciri khas Kalimantan Tengah dan Selatan. Desa Tumbang Nusa di Kabupaten Pulang Pisau terkenal dengan kerajinan tangan purun seperti yang dibuat oleh Indu Muei (artikel). Baru-baru ini, produk lain yang terbuat dari purun telah diciptakan: sedotan. Ini merupakan gagasan Marinus Kristiadi Harun dari pusat penelitian di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Banjarbaru. Pada tahun 2019 ia mengadakan lokakarya di Tumbang Nusa tentang cara membuat sedotan dari tanaman purun yang diikuti oleh 20 orang perempuan.


Pada bulan November, YTS mengunjungi rumah Ibu Leni, salah satu perempuan yang mengikuti pelatihan pada tahun 2019. Dari 20 perempuan yang mengikuti pelatihan, hanya dialah yang terus memproduksi sedotan ramah lingkungan ini. Dua perempuan lainnya, Ibu Evy dan Ibu Megawati, juga membuat sedotan purun, namun mereka tidak mengikuti pelatihan awal. Ketika ada pesanan yang masuk, kuotanya dibagi antara mereka, namun mereka bekerja secara individu. Mereka menyeberangi Sungai Kahayan untuk memanen purun, yang beberapa di antaranya ditanam oleh para pendahulu mereka, dan memetik batang purun yang panjangnya mencapai 1 meter, dengan memotong di dekat pangkalnya yang lebih lebar. Satu batang menghasilkan dua sedotan yang masing-masing berukuran 20 cm. Purun yang baru saja dipotong akan tumbuh kembali setelah dua bulan.


Proses Pembersihan

Pembersihan dan pengeringan batang merupakan proses yang sangat teliti yang memerlukan 3 tahap penggosokan bagian cekungan batang. Langkah lainnya adalah dengan merendam batangnya sebentar dalam larutan yang dibuat dengan merebus serai, daun kayu manis dan daun salam. Larutan ini akan memberi aroma dan melindungi dari mikroba. Proses pembuatan sedotan tersebut memakan waktu sekitar satu minggu, mulai dari panen hingga produk jadi, dan setiap harinya satu orang mampu mengolah 500 sedotan.


Sedotan tersebut direndam dengan herba yang mereka ambil dari kebun mereka atau tetangga.

Pada awalnya, salah satu tantangan yang mereka dihadapi adalah mereka tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar tepat waktu karena semuanya dilakukan secara manual. Dari hasil Analisis Rantai Nilai (VCA) YTS pada tahun 2021, disimpulkan bahwa sebuah bentuk otomatisasi pada proses pembersihan akan meningkatkan produktivitas. Sebuah mesin dibuat dengan rotor yang memutar sikat yang membersihkan batangnya. Mesin itu diberikan kepada para perempuan pada bulan Juni tahun ini. Pada bulan Oktober, berkat mesin tersebut, mereka mampu menyelesaikan pesanan 3000 sedotan tepat waktu.


Ibu Leni (kanan) menggosok batang menggunakan mesin, sedangkan Ibu Megawati (kiri) melakukannya secara manual.

Persaingan Di Pasar

Proses pembersihan yang mereka lakukan saat ini telah berevolusi dari yang mereka pelajari saat pelatihan pada tahun 2019. Misalnya, mereka menambahkan dua tahap lagi untuk menggosok bagian dalam batang. Ibu Megawati menjelaskan, “Awalnya sedotan yang kami buat banyak yang dikirim kembali karena cacat. Kami belajar dari kesalahan kami dan memodifikasi prosesnya sendiri”. Ketiga perempuan tersebut bertahan dan menyempurnakan prosesnya hingga menghasilkan sedotan berkualitas yang mereka hasilkan saat ini. Mereka memiliki pesaing di Palangka Raya yang lebih siap untuk memproduksi sedotan purun, dengan menggunakan lebih banyak mesin. Namun, “Kami merasa produk kami memiliki kualitas yang lebih tinggi dibandingkan produk mereka, karena kami melakukannya secara manual dan lebih hati-hati” kata Ibu Leni. Sedotan dari Tumbang Nusa berharga Rp200, sedangkan sedotan yang dibungkus kertas berharga Rp300. Mereka sudah menjualnya ke pembeli dari Bogor, Bandung, dan Surabaya.


 Kebanyakan orang membeli kemasan 100 sedotan (paling kanan) dengan harga Rp25.000.

Bermanfaat Untuk Ekonomi dan Lingkungan

Karena purun tumbuh subur di rawa gambut, ia dapat menjadi pilihan mata pencaharian bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar lahan gambut. Namun, di Tumbang Nusa, jumlah perempuan yang membuat kerajinan anyaman purun semakin berkurang karena adanya persaingan dari Kalimantan Selatan. Dengan meningkatnya kesadaran akan polusi plastik, konsumen lebih cenderung membeli produk ramah lingkungan seperti sedotan ini. Selama ada permintaan untuk sedotan ini, maka akan ada insentif untuk melindungi dan menjaga lahan gambut, yang pada akhirnya diharapkan dapat mencegah kebakaran yang sering terjadi di Tumbang Nusa.

Facebook
Email
Twitter
LinkedIn
WhatsApp