Pemetaan Lahan Gambut dan Pencegahan Kebakaran Menuntut Pendekatan Terpadu

Indonesia is once again burning. Since July 2026, forest and peatland fires have swept across Kalimantan, pushing air quality in Palangka Raya to hazardous extremes and sending haze as far as the Philippines and Malaysia. The human toll is already staggering: from August to October there have been more than 283,000 recorded cases of acute […]

Mata Pencaharian Ramah Gambut

It is evident that the protection and restoration of peatlands in Indonesia cannot be done without the local community. It is unrealistic to completely close off peatland areas to human activities for two reasons: people already live there and a majority of peatland is already altered by drainage canals that stretch for thousands of kilometers, […]

Melihat Ekosistem Gambut dari Dekat: Ekowisata Edukasi Konservasi di Camp LAHG Sebangau

Reached by kelotok from Kereng Bangkirai Pier, the Peat Swamp Forest Field Laboratory (LAHG), managed by CIMTROP-UPR, offers visitors the opportunity to learn about and experience the peatland ecosystem of Sebangau firsthand. With new facilities now being opened for visitors, an important question arises: how can surrounding communities be involved without compromising the area’s research […]

Nyamplung: Harapan Hijau untuk BIofuel dan Restorasi Lahan Gambut

Dari empat spesies yang diuji, nyamplung menunjukkan pertumbuhan terbaik, dengan tingkat kelangsungan hidup 88% dan pertumbuhan yang lebih baik dalam kondisi agroforestri. Kami berbicara dengan Dr. Siti Maimunah, yang memimpin percobaan ini, dan ia percaya bahwa nyamplung adalah tanaman biofuel paling cocok yang kami tahu untuk ditanam di lahan gambut yang terdegradasi. Kemampuannya beradaptasi dengan kondisi tergenang air membuatnya cocok untuk lahan gambut, yang perlu tetap basah agar sehat. Manfaat ekologisnya lebih luas: bunga nyamplung menjadi makanan lebah, dan buahnya jadi pakan untuk burung dan mamalia kecil.

Peluncuran Peta Jalan Restorasi Lahan Gambut di Indonesia

The Center of Peatland Science, Technology and Innovation (PPIIG) is a seven-floor building located at the edge of the campus grounds of the University of Palangka Raya. Built in 2020, it is a center of excellence, dedicated to research and development of peatlands in the natural, social and engineering sciences. On its 4th floor, there […]

Menyusun roadmap untuk restorasi lahan gambut di Indonesia

Restorasi lahan gambut memiliki dampak yang luas terhadap berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan. Untuk mengetahui hubungan mana yang relevan dengan penyusunan roadmap, kita perlu memahami batas-batas keterkaitan tersebut secara menyeluruh. Tim proyek mengumpulkan data dari pemerintah provinsi dan kabupaten, LSM, serta sektor swasta di Kalimantan Tengah. Data tersebut kemudian dirangkum menjadi temuan-temuan yang memberikan gambaran tentang jenis perubahan apa saja yang dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan restorasi gambut.

RMU Membangun Fasilitas Albumin di Desa Tampelas, Mengintegrasikan Mata Pencaharian Berkelanjutan dan Utilitas Publik

Proyek di Tampelas adalah proyek perintis yang ambisius. Perencanaan sudah dimulai pada tahun 2021, dan sekarang konstruksinya sudah 90% selesai. Kami mengetahui bahwa mereka sedang membangun fasilitas lain yang mendukung produksi albumin dan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Tampelas tidak terhubung dengan jaringan listrik nasional, sehingga mereka bergantung pada generator bertenaga diesel untuk penerangan di malam hari. RMU bermitra dengan PT Arya Watala Capital untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya yang akan menyalakan fasilitas pengolahan albumin. Kelebihan listrik akan dapat diakses oleh masyarakat.

Peran Lahan Gambut di Indonesia dalam Rencana Prabowo untuk Dana Ekonomi Hijau

Meskipun lahan gambut di Indonesia saat ini merupakan penghasil emisi karbon netto, terdapat potensi besar untuk menghasilkan kredit karbon dengan cara mengurangi tingkat emisi melalui pengelolaan yang menjaga dan mengembalikan fungsi penyimpanan karbon. Indonesia masih menentukan protokol dan standar untuk ekonomi karbon yang sedang berkembang, dan sangat penting untuk berinvestasi agar sistem tersebut sesuai dengan tujuan; untuk memberikan imbalan kepada masyarakat setempat atas perilaku penggunaan lahan yang mendukung konservasi lahan gambut, bakau, dan hutan.

Potensi Sorgum sebagai Tanaman Serealia di Lahan Gambut

Wilayah Kota Dumai terdiri dari 80% lahan gambut7 dan telah terkena dampak kebakaran gambut dan kabut asap. Pengembangan program sorgum PT KPI dimulai sebagai respon terhadap kebakaran tersebut. Mereka berkomitmen untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang memitigasi kebakaran serta membantu mengembangkan masyarakat yang tinggal di lahan gambut. Dalam program ini, mereka berkolaborasi dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau untuk memperkenalkan sorgum kepada kelompok tani 'Alam Tani' sebagai salah satu potensi mata pencaharian. Mereka pertama kali mencoba menanam sorgum di lahan seluas satu hektar pada bulan Desember 2022 dan enam bulan kemudian melakukan panen pertama, di mana 20 kg di antaranya dijual.

Masyarakat Peduli Api Tumbang Nusa

Menanggapi bencana kebakaran dan kabut asap pada tahun 2015, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan keputusan untuk membentuk kelompok sukarelawan pemadam kebakaran yang disebut “Masyarakat Peduli Api” (MPA) di 300 desa di Indonesia yang berisiko terbakar3Tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat desa agar mereka mandiri dalam mencegah dan memadamkan kebakaran di wilayahnya masing-masing. Pada tahun 2021, Pak Silpanus menjadi Ketua MPA Tumbang Nusa. Ia dan 16 anggota MPA Perintis bekerja tiga bulan dalam setahun pada musim kemarau untuk mencegah dan memadamkan kebakaran di wilayah mereka.

Proyek Restorasi Ekosistem Riau menggunakan pendekatan produksi-perlindungan yang unik untuk restorasi lahan gambut

Keberhasilan RER berkaitan dengan faktanya bahwa APRIL satu-satunya yang bertanggung jawab atas area konsesi dan sebagai perusahaan multinasional, mereka memiliki sumber daya yang berlimpah, dengan anggaran sebesar USD 5 juta dolar per tahun. Mereka menerapkan pendekatan produksi-perlindungan yang unik, di mana hutan tanaman yang dikelola secara berkelanjutan di sekeliling RER mendukung proyek restorasi secara finansial.

Seorang Petani Berbakti untuk Masa Depan

Pak Taman belajar sendiri bagaimana bertani di lahan gambut tanpa membakar. Tidak ada kursus khusus yang bisa dipelajari sembarang orang. Ini membutuhkan dedikasi dan kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan dan generasi mendatang. Ia mengajarkan metode ini kepada tetangga-tetangganya yang bertani, namun mereka tidak menerapkannya dan tetap membakar untuk membuka lahan. Pak Taman beberapa kali mengatakan kepada kami bahwa tanah di lahan tetangganya lebih rendah dari miliknya, bahkan hingga setengah meter.

Terlalu Banyak Program Mata Pencaharian di Tumbang Nusa

Sejak tahun 2003, berbagai pihak telah memprakarsai total 15 program mata pencaharian di Tumbang Nusa, dan 18 plot tambahan telah dibuat untuk mendemonstrasikan beberapa pilihan mata pencaharian yang ramah gambut. Sebagian besar inisiatif ini tidak menghasilkan perubahan praktik yang substansial di lapangan, dan hanya tiga program yang dianggap efektif. Program yang efektif adalah program yang setidaknya beberapa elemennya telah diadopsi oleh anggota masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam demplot.

IBILAGA: Mengembangkan Industri Perikanan Air Tawar di Kalimantan Tengah

Fokus utama dalam proyek ini adalah untuk mengembangkan industri ikan air tawar di Kalimantan Tengah. Pak Juliansyah berpikir bahwa perkembangan industri ini masih kurang, jika dibandingkan dengan Kalimantan Selatan. Dia menjelaskan bahwa “Masyarakat tidak mau memelihara ikan gabus atau papuyu karena membutuhkan waktu yang lama. Jadi, salah satu tujuan kami adalah untuk mempersingkat waktu pertumbuhan ikan”, seperti yang telah mereka lakukan untuk ikan patin, dari 7-8 bulan menjadi empat bulan saja. Mereka mencoba bereksperimen dengan tiga faktor: pakan ikan, genetic stock, dan lingkungan.

Sagu: Tanaman yang sangat produktif dan tumbuh subur di lahan gambut

Pohon sagu (Metroxylon sago) memiliki potensi besar untuk menjadi sumber mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut. Tanaman ini berasal dari bagian timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua, di mana tanaman ini dikonsumsi sebagai makanan pokok1. Kelapa sawit mencakup 5,5 juta hektar di Indonesia dan 95% berada di Papua2. Sagu sangat tahan banting, mampu tumbuh di tanah yang netral hingga sangat asam, tanah organik dan tanah mineral dan bahkan menoleransi tanah dengan kadar belerang tinggi.

Menyelamatkan Lahan Gambut dengan Sedotan Ramah Lingkungan

Purun (Lepironia articulata) merupakan salah satu jenis alang-alang yang tumbuh di lahan gambut. Tanaman ini dimanfaatkan dalam kerajinan anyaman seperti tikar, tas, dan topi yang menjadi ciri khas Kalimantan Tengah dan Selatan. Desa Tumbang Nusa di Kabupaten Pulang Pisau terkenal dengan kerajinan tangan purun seperti yang dibuat oleh Indu Muei (artikel). Baru-baru ini, produk lain yang terbuat dari purun telah diciptakan: sedotan.

Menerapkan Praktik yang Lebih Baik untuk Penyadapan Karet

Yayasan Tambuhak Sinta mengadakan dua sesi pelatihan untuk petani karet kecil di Pilang. Salah satunya adalah tentang cara mengatasi hama dan penyakit yang menyerang pohon dan yang lainnya berfokus pada cara meningkatkan kualitas getah karet yang mereka hasilkan. PT Kahayan Berseri, perusahaan yang membeli karet dari para petani, juga terlibat dalam pelatihan ini. Ini adalah pertama kalinya para petani menerima pelatihan formal untuk pertanian karet. Mereka belajar tentang metode yang lebih baik yang akan meningkatkan kualitas produk lateks.